“Saya dan ayah Arsyil telah bercerai, ketika usia kandungan saya 2 bulan”
Masih teringat jelas dalam benak saya saat mengandung Arsyil. Dalam usia kandungan memasuki bulan ke 2, suami saya menceraikan saya.

Usia Arsyil kini 9 tahun. Semenjak ia dalam kandungan hingga kini tak pernah bertemu dengan ayahnya. Jangankan untuk bertemu, ayahnya tak pernah menghubungi saya atau siapapun. Bisa jadi, ia juga tak tau kondisi Arsyil yang sakit seperti ini.

Tumor di wajahnya makin hari makin besar dan bengkak. Membuat separuh wajah anak saya jadi tak beraturan. Lebih dari itu, rasa sakit yang luar biasa membuat Arsyil hanya bisa merintih dan menangis saat sakitnya kambuh.

Kondisinya bukan cuma itu, Arsyil juga menderita penyakit batu kandung kemih. Penyakit batu kandung kemih ini sering menyebabkan demam tinggi dan rasa sakit yang tak tertahankan sehingga anak saya Arsyil jarang masuk sekolah. Padahal Arsyil adalah ketua kelas.
Tak pernah merasakan kasih sayang Ayah, tumor, batu kandung kemih dan berujung pada ketidakmampuan saya yang tidak bisa membawanya berobat tanpa putus. Itu semua harus dirasakan Arsyil dalam kurun waktu 9 tahun ini.
Dengan banyaknya proses pengobatan ini, hanya saya yang membiayai Arsyil. Saya single parent, hanya mengandalkan tabungan atau hasil jualan online saja yang tak seberapa. Banyak biaya obat yang diluar dari BPJS dan harganya tak bisa saya jangkau.





