Ahmad Ammar baru berusia 17 hari, tetapi sejak lahir ia sudah harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Sebagai anak pertama dalam keluarga, kehadirannya membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada tantangan besar yang harus mereka hadapi.

Sejak lahir, Ahmad Ammar sudah mengalami kondisi medis serius yang mengharuskannya menjalani operasi di usia dua hari untuk pemasangan kantong kolostomi. Kondisi ini membuatnya sulit makan, dan keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan medisnya. Sayangnya, tidak semua obat-obatan dan kantong kolostomi yang diperlukan ditanggung oleh BPJS, sehingga orang tuanya harus mencari cara untuk mendapatkan biaya tambahan. Ahmad Ammar sering kali rewel karena ketidaknyamanan yang dirasakannya, dan hal ini semakin membuat orang tuanya khawatir.

Ayah Ahmad Ammar bekerja sebagai buruh bangunan dan tukang ojek untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Penghasilannya tidak menentu, hanya sekitar Rp20.000 per hari dari menarik ojek, dan jika mendapat panggilan sebagai buruh bangunan, ia bisa memperoleh sekitar Rp80.000 per hari. Namun, pekerjaan sebagai buruh tidak selalu ada setiap hari, sehingga pemasukan keluarga sangat terbatas. Kondisi ini membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan anak mereka, termasuk untuk membeli popok ketika uang tidak mencukupi. Kadang, mereka harus memilih antara membeli kebutuhan pokok untuk makan atau membeli perlengkapan medis untuk Ahmad Ammar.

Sebagai orang tua baru, ayah dan ibu Ahmad Ammar juga merasa bingung dalam merawat buah hati mereka yang memiliki kondisi medis khusus. Mereka masih belajar bagaimana cara terbaik untuk menangani kebutuhan Ahmad Ammar yang berbeda dengan bayi lainnya. Rasa cemas dan lelah sering menyelimuti mereka, tetapi mereka tetap berusaha sekuat tenaga agar Ahmad Ammar bisa mendapatkan perawatan terbaik. Mereka mencari informasi dari berbagai sumber, bertanya kepada dokter, serta berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti anjuran medis, meskipun terkadang keterbatasan biaya menjadi hambatan utama.
Keinginan terbesar mereka adalah melihat Ahmad Ammar tumbuh sehat seperti anak-anak lain. Setiap hari, mereka berharap ada keajaiban yang bisa membuat kondisi anak mereka membaik. Mereka juga berharap adanya bantuan dan dukungan dari pihak-pihak yang peduli agar Ahmad Ammar dapat memperoleh perawatan yang layak tanpa harus terus-menerus memikirkan biaya. Kesulitan ekonomi yang mereka hadapi bukan hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan medis Ahmad Ammar, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari mereka.





